Selasa, 11 Oktober 2011

KONSEP DASAR RENCANA


A.    Pendahuluan
Saudara sebagaimana kita pahami bersama, bahwa rangkaian tugas kita selaku penyuluh agama dalam memberdayakan lembaga dakwah senantiasa diawali dari perencanaan. Kemudian pelaksanaannya serta evaluasi dan pelaporan pelaksanaan itu. Sekarang, dalam pembelajaran sesi ini kita akan membahas secara bersama-sama mengenai dimensi ontologis dari rencana itu sendiri, sebagai dasar untuk kita pada sesi berikutnya pada tataran aplikatif bagaimana menyusun rencana Pemberdayaan Lembaga Dakwah yang efektif.
B.     Pengertian Perencanaan
Saudara, anda tentu pernah melihat acara panjat pinang yang biasa kita laksanakan dalam setiap perayaan kemerdekaan kita. Dalam peristiwa itu, kita menyaksikan sekelompok orang yang berusaha untuk menggapai hadiah yang digantung dengan cara memanjat. Dan tantangannya adalah licinnya batang pinang yang tegak lurus. Bagaimana anda memaknai peristiwa itu? Tentu dikaitkan dengan kajian kita pada sesi ini yakni tentang perencanaan.
Setujukah jika kita sebutkan bahwa dalam peristiwa  itu sesungguhnya menampilkan kerja Tim? Dan dalam peristiwa itu ada aktivitas berpikir bukan hanya mengandalkan tenaga? Dan akticvitas berpikir tentang cara menggapai hadiah itu dapat kita sebut merencanakan.
Arti rencana itu sendiri tampaknya antara satu fakar dengan yang lainnya tidak sama satu sama lainnya, namun demikian Rencana sering diartikan sebagai langkah awal dalam persiapan pelaksanaan kegiatan, terutama kaitannya dengan pelaksanaan tugas-tugas keorganisasian.
Diantara fakar manajemen dan organisasi yang mendefinisikan rencana antara lain Siagian, (1996: 108) mendefinisikannya sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang mengenai hal-hal yang akan dilaksanakan di masa depan. Pengertian ini secara redaksional berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Terry (1997: 17) sebagai  tindakan memilih dan menghubungkan  fakta-fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang akan datang dalam hal memvisualisasi dan merumuskan aktivitas-aktivitas yang dianggap perlu untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Berangkat dari dua contoh model pengertian  rencana di atas maka sederhanyanya rencana adalah pemetaan pencapaian tujuan berdasarkan fakta-fakta. Fakta-fakta tersebut diperoleh melalui penelitian atau pencandraan langsung mengenai kondisi objektif di lapangan. Dalam hal ini tujuan menjadi patokan kegiatan yang akan dilaksanakan tersebut. Maka merencanakan sesuatu pada prinsipnya merencanakan tujuan dan proses pencapaian tujuan itu yang kemudian disebut dengan program.

C.    Unsur-unsur Rencana
Saudara, tentu kita semua pernah melihat sebuah pohon. Bagaimana saudara menjelaskan pohon yang saudara lihat? Bukankah pada sebuah pohon itu kita akan menemukan akar, batang, dahan, dan daun. Bahkan didalam masing-masing bagian itu masih terbangun dari hal-hal yang lain?
Description: Description: Description: pohon.jpg
Setujukah anda jika kita anggap bahwa sebuah rencana itu demikian pula adanya. Dia tentu terbangun dari beberap hal yang menyebab ia disebut sebuah rencana? setelah anda mempelajari bab terdahulu, pernahkan anda membayangkan apa saja yang menjadi unsur-unsur sebuah rencana. Terutama kaitannya dalam perencanaan kegiatan penyuluhan agama.Dalam penyusunan rencana, penting untuk memperhatikan aspek-aspek berikut:
1.      Tujuan. Tujuan ini dikaitkan dengan aspek kebutuhan sasaran bina berdasarkan observasi pada pencandraan data-data sebelumnya. Dengan adanya tujuan dan sasaran yang jelas maka perencanaan ini satu langkah telah memiliki nilai manfaat yang signifikan.
2.      Alasan perlunya perencanaan itu disusun. Artinya perencanaan itu tidak asal di buat, melainkan mendasar atas problematika sasaran bina yang akuntabel. Dan kegiatan itu memang penting untuk dilaksanakan dalam rangka meningkatkan keberagamaan sasaran bina.
3.      Pelaksana. Aspek ini tidak kurang pentingnya, perencanaan sebagus apapun dibuat tanpa mempertimbangkan siapa yang akan melaksanakan secara tepat dan profesional hanya akan menjadi impian semata. Dan tetap saja kondisi sasaran bina terbengkalai tanpa ada pembinaan yang baik. Boleh jadi perencanaan itu hanya bersifat laporan formal belaka tanpa memiliki arti untuk melakukan perubahan yan sesungguhnya.
4.      Waktu pelaksanaan. Waktu pelaksanaan yang tepat dan terukur menjadi salah satu bagian dari jaminan bahwa perencanaan tersebut baik. Tanpa ada batasan waktu yang jelas, maka perencanaan ini hanya kegiatan yang tidak terarah dan sulit untuk mengevalusasi keberhasilannya.
5.      Tempat kegiatan dilaksanakan. Penting juga untuk mempertimbangkan lokasi pelaksanaan kegiatan. Dalam perencanaan hal ini harus sudah tergambar, sehingga dapat disesuaikan dengan materi kegiatan dengan kemampuan para pelaksana serta waktu yang tersedia. Tempat yang representatif menjadi bagian pendukug menuju keberhasilan kegiatan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
6.      Selanjutnya adalah cara, metode atau teknis pelaksanaan kegiatan. Seperti apa dan bagaimana kegiatan tersebut akan dilaksanakan,
Unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling mendukung dan melengkapi (komplementer) sehingga menjadi kepaduan yang utuh dan integral. Hilangnya satu unsur memungkinkan terganggunya kegiatan yang akan dilaksanakan dan berarti menghambat pencapaian tujuan.
D.    Manfaat Rencana
Rencana bermanfaat diantaranya untuk:
1.      Menentukan tujuan yang akan dicapai, sehingga menjadi pedoman/arah kegiatan.
2.      Menetapkan prosedur pencapaian tujuan secara lebih efektif dan efesien
3.      Meminimalkan ketidak pastian
4.      Bahan dan alat untuk dijadikan standar evaluasi kegiatan.
E.     Ciri Rencana yang Baik
Untuk memperoleh manfaat sebaik-baiknya dari rencana yang disusun, maka rencana tersebut setidaknya harus memenuhi criteria sebagai berikut:
1.      Rencana yang dibuat harus mempermudah pencapaian tujuan, bukan sebaliknya.
2.      Rencana tersebut dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti mengenai hakikat tujuan yang ingin dicapai.
3.      Rencana tersebut dibuat oleh pihak yang memahami mengenai teknik-teknik perencanaan.
4.      Rencana yang dibuat disertai rincian yang teliti, dan segera diikuti oleh program berbagai kegiatan : metode, tenaga, biaya, target waktu, target hasil, dan lainnya.
5.      Rencana tersebut harus rasional dan operasional.
6.      Sederhana dan jelas sehingga mudah diaplikasikan.
7.      Fleksibel
8.      Mempunyai stabilitas, atau daya prediksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar